
Belajar model sekarang, Dengarkan diradio, browsing sana-sini, check, baca, telaah, share....
Nikmat Beranak Derita
Sumber: Ustadz Ibnu Muhammad Salim*
Suatu hari Nabi Isa a.s. berjalan diiringi seorang pria. Begitu sampai di tepi sebuah sungai, mereka duduk untuk sarapan pagi dengan tiga potong roti. Satu potong dimakan oleh Nabi Isa sendiri, satu potong lagi disantap oleh sahabatnya itu, dan satu potong lagi akan mereka bawa sebagai bekal nanti jika saja tidak menemukan makanan lagi dalam perjalanan. Nabi Isa bangkit dan berjalan ke sungai untuk minum. Setelah minum, beliau kembali ke tempat semula. Setelah menengok ke kiri-kanan, ternyata sepotong roti sisanya itu sudah raib. Beliau bertanya kepada sahabatnya itu, “Siapa yang mengambil roti kita?” Jawabnya, “Aku tidak tahu, hai Nabi!”
Tanpa pikir panjang, keduanya meneruskan perjalanan. Tepat saat tengah hari, tiba-tiba seekor kijang diiringi dua anaknya melintas di hadapan mereka. Nabi Isa pun memanggil seekor dari anak kijang itu. Anak kijang itu mendekat dan langsung ditangkap, disembelih, lalu dipanggang. Mereka pun menyantapnya. Sisanya dikumpulkan Nabi Isa dan beliau perintahkan, “Hai anak kijang bangkitlah berdiri dengan izin Allah!” Anak kijang itu pun menjelma, lalu berlari entah ke mana. Nabi Isa a.s. kembali bertanya kepada sahabatnya, “Demi Allah yang memperlihatkan pertandaan ini kepadamu, siapa yang mengambil sepotong roti tadi?” Sahabat itu masih tetap menjawab, “Aku tidak tahu, wahai Nabi!”
Mereka pun meneruskan perjalanan sampai ke sebuah lembah yang digenangi air. Nabi Isa memegang tangan si pria, dan mereka berdua berjalan di atas permukaan air. Setelah tiba di seberang, Nabi Isa kembali berkata, “Demi Dia yang memperlihatkan pertandaan ini kepadamu, siapa yang mengambil roti kita tadi?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.”
Akhirnya, mereka sampai di gurun luas dan beristirahat di sana. Nabi Isa a.s. tiba-tiba menumpukkan seonggok tanah-pasir, lantas berkata, “Jadilah kau seonggok emas butiran dengan izin Allah!” Onggokan pasir itu pun berubah jadi emas. Nabi Isa membagi tiga onggokan emas itu, sembari berujar, “Sepertiga untukku, sepertiga untukmu—sambil melihat kepada temannya itu—dan sepertiga lagi untuk orang yang mengambil roti tadi.” Karena sangat berharap mendapatkan satu onggokan emas sisanya itu, akhirnya si pria mengakui bahwa dialah yang memakan roti yang satu potong tadi. “Ambillah untukmu emas ini semuanya,” ujar Nabi Isa sembari meninggalkan pria itu sendirian beserta tiga onggokan emasnya.
Tak lama berselang, lewatlah dua orang perampok berbadan kekar dan tegap di padang lengang itu. Melihat tumpukan emas kuning kemilau, kedua rampok itu langsung beraksi dan hendak membunuh pemiliknya itu. Akan tetapi, si pria pemilik emas itu segera memelas, “Jangan bunuh aku, kita bisa bagi tiga harta karun ini!” Dua rampok itu menyetujui permohonan si pria. Karena dililit rasa lapar, salah satu dari rampok itu diutus untuk membeli makanan di warung terdekat. Di tengah jalan ia berpikir untuk mengenyahkan kedua pria yang menjaga emas itu: kenapa aku harus berbagi dengan mereka; bukankah aku akan kaya raya dengan seluruh emas itu. Maka, lebih baik makanan yang kubeli nanti kumasuki racun lebih dahulu agar kedua bajingan itu mati, dan tumpukan emas itu bakal menjadi milikku semuanya.
Begitu rekan yang diutus membeli makanan berangkat, dua yang menjaga emas itu pun bermufakat: emas ini lebih baik kita bagi dua saja. Begitu teman yang membeli makanan pulang, kita bunuh saja dia. Akhirnya, ketika si pembeli makanan kembali, ia mati dibunuh oleh temannya sendiri, sementara teman yang menanti melahap makanan beracun sekenyang-kenyangnya, dan akhirnya pun mati.
Onggokan emas masih utuh di tempatnya. Kebetulan, setelah tragedi itu terjadi, Nabi Isa bersama beberapa sahabatnya melintasi tempat itu dan menyaksikan tiga mayat terkapar di dekat onggokan emas. Nabi Isa a.s. berujar kepada para sahabatnya, “Waspadah kalian terhadap tragedi cinta dunia seperti ini!”
****
Kisah ini tersebar di berbagai kitab klasik(1). Saya amat senang dapat menceritakan kembali kepada pembaca. Sebab, cerita ini sejatinya mencerminkan “wajah” keseharian kita sendiri. Anda bisa jadi sudah mempunyai rumah sendiri. Gaji Anda cukup untuk makan dan sedikit hiburan. Tapi, karena tuntutan gaya hidup modern atau karena bujukan iklan, Anda ingin memiliki kendaraan bermotor, lalu butuh garasi, lalu... Dan seterusnya dan seterusnya. Jelas, itu manusiawi, bahkan bisa menjadi pemacu untuk maju. Tetapi, naasnya, kita acap tergesa-gesa. Ingin cepat sukses tanpa proses. Keinginan timbul langsung terkabul. Dengan kata lain, kita cenderung berorientasi jangka pendek.
Itulah awal mula dosa. Sebutlah dusta, mencuri, korupsi, zina, dan sederet perbuatan lain yang dikategorikan dosa, semua dilakukan karena orang ingin cepat-cepat nikmat, segera kaya, tanpa berpikir kelak bakal selamat. Itulah pula kenapa kita—sebagai pebisnis, politisi, preman, atau orang biasa—mudah menyikut orang lain. Pagi kawan, eh…sore sudah jadi lawan.
Nikmat Beranak Derita
Dengan demikian, dosa sejatinya adalah suatu perbuatan yang dalam jangka pendek menyenangkan, tapi dalam jangka panjang menyengsarakan. Saat Anda berbohong di hadapan teman Anda, saat itu Anda selamat. Tapi bersiaplah untuk tidak dipercaya di kemudian hari. Seberapa lamakah orang berzina mereguk kenikmatannya dibandingkan penderitaannya di kemudian hari?
Setahun dua tahun Anda mungkin dapat menikmati hasil korupsi. Tapi bersiaplah untuk diburu KPK dan dituntut di pengadilan. Tak jarang para koruptor menghabiskan kekayaan hasil korupsinya itu hanya untuk menghilangkan jejak. Energi, bahkan sisa usianya, terkuras habis untuk menutupi malu dan agar terbebaskan dari jerat hukum. Bahkan, bila ternyata Anda lolos dari terdakwa, Anda tak bisa mengindar dari nurani Anda sendiri. Jauh di lubuk batin ini, ada suara hati yang begitu jujur akan berkata, “Kamu korupsi! Kamu telah nyolong hak orang lain! Kamu menyuapi anak istrimu dengan uang haram! Dan seterusnya.” Atau, bila ternyata hati sudah begitu berkarat, nurani tak lagi berjerit, lalu siapa yang bisa mengelak siksa kelak di akhirat?
Setiap kali manusia menentang nuraninya—Freud menyebut superego-nya—setiap kali ia melakukan pelanggaran nilai-nilai moral (dalam bahasa agama, berbuat dosa atau maksiat), ia akan mengalami kegelisahan. Kaum psikoanalisis menyebutnya moral anxiety. Konflik dengan nurani akan menorehkan luka psikologis. Mungkin luka psikologis ini dibenamkan dalam bawah sadar kita, tetapi ia tidak akan hilang. Ia akan menghantui seluruh hidup kita. Perasaan berdosa (guilt feeling) menimbulkan gangguan fisik dan psikologis.
Diri kita pun rusak. Para psikolog menyebutnya anxiety disorder. Secara fisik, kita bisa dilanda kesulitan konsentrasi, sulit tidur, mudah lelah, keluar keringat dingin, dan tak jarang sesak napas dan pening. Pendeknya, kita mempercepat kehancuran diri kita. Maka, tak salah bila dosa acap disebut nikmat beranak derita.
Pembaca, itulah makna cinta dunia. Memikirkan yang sementara, melupakan yang abadi. Berorientasi jangka pendek. Kita pun jadi mengerti kenapa Nabi saw. bersabda bahwa “cinta dunia adalah pangkal segala dosa”. (2) Kata “dunia (dunyâ)” artinya adalah rendah, sementara, inferior, eksistensi temporal, berjangka pendek. Jadi, cinta dunia berarti cinta yang sementara, yang rendah, yang jangka pendek.
Dalam ungkapan Quran, “Kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah kesenangan sedikit (QS Ar-Ra‘d: 26).” Nabi saw. mengibaratkan kehidupan dunia bagai setetes air laut yang menempel pada jari, sementara kehidupan akhirat bagaikan lautan itu sendiri. Quran juga melukiskan pesona dunia laksana “… hujan dan tanam-tanaman yang disiraminya, mengagumkann para petani, tetapi kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, setelah itu lalu hancur” (QS al-Hadîd: 20).
Ingatkah apa yang kita inginkan ketika kita berumur 6, 12, 21, dan 26 tahun? Mungkin sepeda, kuda, teman, mobil atau pekerjaan, ataukah ingin agar keluarga kita berubah sikap? Setelah kita memperoleh segala yang kita inginkan, berapa lamakah kepuasan dan kebahagiaan kita bertahan sebelum kita menginginkan hal yang lain? Sudahkah keinginan itu berakhir? Atau akankah keinginan itu berakhir? Dunia bersifat sementara, tapi selalu membuat kita menginginkan sesuatu yang lebih.
Menurut ulama, dunyâ adalah segala sesuatu yang paling dekat dengan nafs, yang kerap diterjemahkan sebagai jiwa-rendah (lower self). Dibilang jiwa rendah, karena nafs sebenarnya hanya berhasrat pada kesenangan-kesenangan rendah (fisikal dan material atau duniawi). Hasratnya nirbatas. Tak terpuaskan dengan diperturutkan. Nabi saw. bersabda, “Seandainya turunan Adam memiliki dua lembah dari emas, niscaya dia menginginkan yang ketiga, kerongkongan turunan Adam tidak pernah penuh, sehingga [dipenuhi] dengan tanah” (H.R. Bukhârî dan Muslim).
Jadi, cinta dunia bersumber dari nafs ini. Pencinta dunia—manusia berorientasi rendah—adalah mereka yang memperturutkan jiwa-rendah-nya. Itulah sumber tragedi. Potret ekstrem mereka bagaikan tiga orang yang terkapar tewas dalam kisah di atas. Di sini perlu dicamkan pesan Nabi Isa a.s., “Waspadalah kalian terhadap tragedi cinta dunia seperti ini!
Kendati begitu, kita jangan sampai tertipu. Suatu ketika seorang pria datang menemui Imam ‘Ali k.w. Ia mulai mencela dunia. Ia berteriak, dunia telah memperdaya, merusak, menipu, dan menganiaya manusia. Dunyâ matâ‘ al-ghurûr. Pria itu konon pernah mendengar orang-orang besar mencela dunia, lalu mengira, realitas alam inilah yang mereka cela.
Imam ‘Ali lantas berkata, “Sesungguhnya engkaulah yang tertipu oleh dunia ini, padahal dunia tidak menipumu. Engkaulah yang menganiaya dunia, bukan dunia yang menganiayamu.” “Dunia, lanjut sang imam, adalah sahabat bagi yang berjalan bersamanya dengan cara yang bersahabat; ia adalah kesembuhan bagi yang mengetahui hakikatnya. Dunia adalah tempat beribadah para pencinta Allah, tempat salat para malaikat Allah, tempat turunnya wahyu Allah, dan tempat berniaga para wali Allah.” (3)
Jadi, dunia menjadi sumber petaka bila kita tertambat padanya, sehingga orientasi hidup kita jadi rendah dan sempit (4). Quran menyebutnya sebagai orang yang mempunyai ma‘îsyatan dhanka, kehidupan yang sulit dan sempit (QS Thâhâ: 124). Bagaimana tidak sempit, bila orientasi hidupnya rendah dan sesaat; bila kesenangan-kesenangannya bersifat sementara.
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya pada sahabatnya. “Siapa orang yang cerdas itu?” Para sahabat menunggu penjelasan berikutnya. Beliau melanjutkan, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dan berbuat untuk masa depannya setelah mati.”
Ya, orang beriman bukan menghindari kenikmatan duniawi, melainkan tidak meletakkan nilai yang tinggi kepadanya. Syekh Akbar Ibnu Arabi berpesan, “Dunia ini tidaklah buruk—sebaliknya, ia merupakan ladang akhirat. Apa yang kamu tanam di sini akan kamu panen di sana. Dunia ini adalah jalan menuju berkah yang abadi dan karena itu ia baik—layak didamba dan dipuji. Yang buruk adalah memperlakukan dunia sehingga kamu menjadi buta pada kebenaran dan dikuasai sepenuhnya oleh hasrat, keinginan, dan ambisimu kepadanya.
“Sungguh, kehidupan di dunia hanyalah permainan dan kegembiraan sia-sia. Tapi jika kamu beriman dan menjaga diri dari kejahatan, kamu akan diberi-Nya pahala (QS Muhammad: 47).” []
* Ibnu Muhammad Salim adalah penulis buku laris Amalan Sesudah Shalat.
Catatan Kaki
-----------------------------
(1) Setidaknya dikisahkan oleh Abû Bakr bin Abi al-Dunyâ, Kitâb Dhamm al-Dunyâ, dalam Mawsû‘ah Rasâ’il, 2: 49, kutipan no. 87; lihat pula al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, 3: 267; Abû Thâlib al-Makkî, Qut al-Qulûb, 1: 255; al-Turtushi, Sirâj, h. 79-80; Ibn Asakir, Sîrah, h. 95, no. 82; al-Abshihi, al-Mustatraf, 2: 26–264.
(حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ، وَالنَّظَرُ يَزْرَعُ فِي الْقَلْبِ شَهْوَةً، وَرُبَّ شَهْوَةٍ أَوْرَثَتْ أَهْلَهَا حُزْنًا طَوِيْلاً (2
(3)Lihat al-Syarîf al-Radhî (ed), Nahj al-Balâghah Syarh Syaikh Muhammad ‘Abduh, Dâr al-Fikr, Beirut, t.th., juz 4, hh. 31–2.
(4)Dunia di atas segala-galanya sehingga lupa kepada Allah dan hari akhir (QS al-Najm 14–15), dunia dijadikan sebagai tujuan akhir (QS al-Jâtsiyah: 24), kesenangan dunia adalah puncak kehidupan (QS al-Tawbah: 38).
Wallahu a'lam
0 comments:
Posting Komentar