Minggu, 02 Mei 2010

ASMAUL HUSNA


ASMAUL HUSNA – NAMA NAMA ALLAH
Asma berarti nama, dan Husna berarti baik atau indah. Jadi, Asmaul Husna adalah nama nama Allah yang baik dan indah. Yakinkah telah mengenal Allah swt, maka tentunya tahu dan mengimani nama nama Allah atau Asmaul Husna. Allah swt memiliki nama yang sangat baik dan indah.

"Dialah Allah, tidak ada Tuhan/Illah (yang berhak disembah) melainkan

Dia, Dia mempunyai asmaaul husna (nama nama Allah yang baik).” (QS. Thaa-Haa:8)

Nama nama Allah banyak terdapat dalam kitab suci Al Quran. Nama nama Allah tersebut juga merupakan doa dan dzikir yang sangat mustajab. Allah swt menyukai orang yang selalu menyebut namaNya.

Allah swt berfirman, "Allah memiliki Asmaul Husna, maka memohonlah kepadaNya dengan menyebut nama nama Allah yang baik itu..." (QS. Al A'raaf:180)

Dalam suatu hadits Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits tersebut Rasulullah menerangkan bahwa nama nama Allah jumlahnya ada 99.

Berikut ini Asmaul Husna atau Berikut ini Asmaul Husna atau nama nama Allah:

  1. Ar-Rahman, artinya Yang Maha Pemurah
  2. Ar-Rahiim, artinya Yang Maha Pengasih
  3. Al-Malik, artinya Maha Raja
  4. Al-Qudduus, artinya Maha Suci
  5. As-Salaam, artinya Maha Sejahtera
  6. Al-Mu’min, artinya Yang Maha Terpercaya
  7. Al-Muhaimin, artinya Yang Maha Memelihara
  8. 8. Al-‘Aziz, artinya Yang Maha Perkasa
  9. Al-Jabbaar, artinya yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari
  10. Al-Mutakabbir, artinya Yang Memiliki Kebesaran
  11. Al-Khaaliq, artinya yang Maha Pencipta
  12. Al-Baari’, artinya Yang Mengadakan dari Tiada
  13. Al-Mushawwir, artinya Yang Membuat Bentuk
  14. Al-Ghaffaar, artinya Yang Maha pengampun
  15. Al-Qahhaar, artinya Yang Maha Perkasa
  16. Al-Wahhaab, artinya Yang Maha Pemberi
  17. Ar-Razzaq, artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
  18. Al-Fattaah, artinya Yang Maha Membuka (Hati)
  19. Al-‘Alim, artinya Yang Maha Mengetahui
  20. Al-Qaabidh, artinyaYang Maha Pengendali
  21. Al-Baasith, artinya Yang Maha Melapangkan
  22. Al-Khaafidh, artinya Yang Merendahkan
  23. Ar-Raafi’, artinya Yang Meninggikan
  24. Al-Mu’izz, artinya Yang Maha Terhormat
  25. Al-Mudzdzill, artinya Yang Maha Menghinakan
  26. As-Samii’, artinya Yang Maha Mendengar
  27. Al-Bashiir, artinya Yang maha Melihat
  28. Al-Hakam, artinya Yang Memutuskan Hukum
  29. Al-‘Adl, artinya Yang Maha Adil
  30. Al-Lathiif, artinya Yang Maha Lembut
  31. Al-Khabiir, artinya Yang Maha Mengetahui
  32. Al-Haliim, artinya Yang Maha Penyantun
  33. Al-‘Azhiim, artinya Yang Maha Agung
  34. Al-Ghafuur, artinya Yang Maha Pengampun
  35. Asy-Syakuur, artinya Yang Menerima Syukur
  36. Al-‘Aliyy, artinya Yang Maha Tinggi
  37. Al-Kabiir, artinya Yang Maha Besar
  38. Al-Hafiizh, artinya Yang Maha Penjaga
  39. Al-Muqiit, artinya Yang Maha Pemelihara
  40. Al-Hasiib, artinya Yang Maha Pembuat Perhitungan
  41. Al-Jaliil, artinya Ynag Maha Luhur
  42. Al-Kariim, artinya Yang Maha Mulia
  43. Ar-Raqiib, artinya Yang Maha Mengawasi
  44. Al-Mujiib, artinya Yang Maha Mengabulkan
  45. Al-Waasi’, artinya Yang Maha Luas
  46. Al-Hakiim, artinya Yang Maha Bijaksana
  47. Al-Waduud, artinya Yang Maha Mengasihi
  48. Al-Majiid, artinya Yang Maha Mulia
  49. Al-Baa’its, artinya Yang Membangkitkan
  50. Asy-Syahiid, artinya Yang Maha Menyaksikan
  51. Al-Haqq, artinya Yang Maha Benar
  52. Al-Wakiil, artinya Yang Maha Pemelihara
  53. Al-Qawiyy, artinya Yang Maha Kuat
  54. Al-Matiin, artinya Yang Maha Kokoh
  55. Al-Waliyy, artinya Yang Maha Melindungi
  56. Al-Hamiid, artinya Yang Maha Terpuji
  57. Al-Muhshi, artinya Yang Maha Menghitung
  58. Al-Mubdi’, artinya Yang Maha Memulai
  59. Al-Mu’id, artinyaYang Maha Mengembalikan
  60. Al-Muhyi, artinya Yang Maha Menghidupkan
  61. Al-Mumiit, artinya Yang Maha Mematikan
  62. Al-Hayy, artinya Yang Maha Hidup
  63. Al-Qayyuum, artinya Yang Maha Mandiri
  64. Al-Waajid, artinya Yang Maha Menemukan
  65. Al-Maajid, artinya Yang Maha Mulia
  66. Al-Waahid, artinya Yang Maha Tunggal
  67. Al-Ahad, artinya Yang Maha Esa
  68. Ash-Shamad, artinya Yang Maha Dibutuhkan
  69. Al-Qaadir, artinya Yang Maha Kuat
  70. Al-Muqtadir, artinya Yang Maha Berkuasa
  71. Al-Muqqadim, artinya Yang Maha Mendahulukan
  72. Al-Mu’akhkhir, artinya Yang Maha Mengakhirkan
  73. Al-Awwal, artinya Yang Maha Permulaan
  74. Al-Aakhir, artinya Yang Maha Akhir
  75. Azh-Zhaahir, artinya Yang Maha Nyata
  76. Al-Baathin, artinya Yang Maha Ghaib
  77. Al-Waalii, artinya Yang Maha Memerintah
  78. Al-Muta’aalii, artinya Yang Maha Tinggi
  79. Al-Barr, artinya Yang Maha Dermawan
  80. At-Tawwaab, artinya Yang Maha Penerima Taubat
  81. Al-Muntaqim, artinya Yang Maha Penyiksa
  82. Al-‘Afuww, artinya Yang Maha Pemaaf
  83. Ar-Ra’uuf, artinya Yang Maha Pengasih
  84. Maalik al-Milk, artinya Yang Mempunya Kerajaan
  85. Zuljalaal wa al-‘Ikram, artinya Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan
  86. Al-Muqsith, artinya Yang Maha Adil
  87. Al-Jaami’, artinya Yang Maha Pengumpul
  88. Al-Ghaniyy, artinya Yang Maha kaya
  89. Al-Mughnii, artinya Yang Maha Mencukupi
  90. Al-Maani’, artinya Yang Maha Mencegah
  91. Adh-Dhaarr, artinya Yang Maha Pemberi Derita
  92. An-Naafi’, artinya Yang Maha Pemberi Manfaat
  93. An-Nuur, artinya Yang Maha Bercahaya
  94. Al-Haadii, artinya Yang Maha Pemberi Petunjuk
  95. Al-Badii’, artinya Yang Maha Pencipta
  96. Al-Baaqii, artinya Yang Maha Kekal
  97. Al-Waarits, artinya Yang Maha Mewarisi
  98. Ar-Rasyiid, artinya Yang Maha Pandai
  99. Ash-Shabuur, artinya Yang Maha Sabar

Semoga bermanfaat "Sesungguhnya Alloh itu Maha segala galanya"

Sabtu, 01 Mei 2010

Penciptaan Alam Semesta


Terciptanya Langit dan Bumi menurut Al-Quran dan Sains Para ilmuwan seperti George Lemaitre (1920), George Gamov (1948), hingga Stephen Hawking (1988) membenarkan bahwa teori "Big Bang" telah dapat menjelaskan kejadian awal alam semesta.
Teori tersebut mengatakan alam semesta dulunya tersusun dari zat yang sangat rapat,padat dan panas. Beberapa kejadian terbentuk karena suatu ledakan kosmik yang disebut dengan Big Bang, sekitar 13,7 milyar tahun lalu.Sejak saat itu alam semesta mengembang dan mendingin.Sebagian besar pakar percaya bahwa bumi, matahari dan semua planet dan bulan-bulannya dalam tata surya terbentuk pada 4,6 milyar tahun yang lalu dari suatu awan gas raksasa dan debu yang disebut " Solar Nebula". Gas dan debu tersebut dalam solar nebula ini berasal dari sebuah bintang yang meledak dan disebut sebagai SUPERNOVA.

Allah SWT berfirman di dalam Al Quran:
"Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam 6 (enam) masa, kemudian Dia bersemayam diatas ARSY', tidak ada bagi kamu selain dari pada Nya seorang penolongpun dan tidak seorangpun pemberi Syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" ( As-Sajdah,32:04)


Dengan perhitungan matematika sederhana, dapat dijelaskan sbb:

Analogi:

Allah menciptakan alam semesta dan bumi = 6 masa (QS 32:04)

Menciptakan bumi = 2 masa (QS 41:09)

Umur Bumi versi sains (geology) = 4.560.000.000 tahun,

jadi umur bumi = 2/6 = 1/3 umur alam semesta.
4.560.000.000 x 3 = umur alam semesta (setelah Big Bang)

= 13.680.000.000 tahun atau,
4.560.000.000 : 2 = 2.280.000.000 tahun.


Jadi, umur alam semesta sejak pemisahan langit dan bumi versi Al Quran :

6 x 2.280.000.000 = 13.680.000.000 tahun.

Terbukti :
Versi sains mengatakan umur alam semesta sejak peristiwa Big Bang = 13.700.000.000 tahun.
Apakah ini suatu kebetulan?
Perbedaan perhitungan diatas antara pendekatan AlQuran + sains dan sains saja hanya sekitar 20 juta tahun ( tidak ada artinya dalam perhitungan Cosmology), sangatlah mengherankan bila seorang buta huruf seperti Nabi Muhammad SAW sejak 1400 tahun lalu telah dpt mengungkapkan bhw umur bumi = 1/3 umur alam semesta setelah ledakan kosmik Big Bang, bila itu bukan perkataan dari sang pencipta langit dan bumi yang disampaikan oleh Muhammad SAW dimasa itu.
Seorang ahli kosmologi dan astro-fisika ketika menghitung alam semesta, haruslah mempunyai beberapa data dasar perhitungan seperti :

1.Elemen kimia di alam semesta.
2.Cluster bintang tertua.

3.Bintang dwarft tertua , dll.


Itulah yang dilakukan oleh Prof.Jean Claude Pecker (Leading Scientist Author & Rationalist, Batelere 'College D'France') Dalam membuktikan teorinya (data NASA) umur alam semesta berdasarkan "Globular Cluster" tertua yang ditemukan berkisar 11 - 18 milyar tahun.

Berdasarkan ketiga hal tsb itulah Profesor tsb dapat menghitung umur alam semesta, sehingga alam semesta dapat diketahui berumur kurang lebih 18 milyar tahun (menggunakan unsur Re-187) dan berdasarkan data-data geologi (umur meteorite tertua) yang jatuh ke bumi maka bumi dapat diperkirakan berumur 4,56 milyar tahun (menggunakan unsur Sr-87 / Sr-86).

Selanjutnya, Allah SWT telah mengatakan dalam Al-Quran melalui pengertian relativitas waktunya dalam beberapa ayat yang dapat kita jadikan dasar perhitungan umur alam semesta secara sederhana:

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian itu naik kepada Nya dalam 1 hari yang kadarnya adalah 1.000 tahun menurut perhitungan mu" (QS 32:5)

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janjiNya. Sesungguhnya sehari disisi tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu" (QS 22:47)
"Malaikat-malaikat naik kepada tuhan dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun." (QS 70:4)
Maka dengan perhitungan matematika sederhana, dapat dilakukan perhitungan yang dapat menjelaskan umur alam semesta secara mudah sebagai berikut :

( QS 32:5) & ( QS 22:47) : 1 hari disisi Allah = 1.000 tahun manusia (t).

( QS 70:4) : Kadar/waktu 1 hari malaikat ke langit kadarnya = 50.000 tahun (t)


Analogi:
Umur alam semesta (gyr) berdasarkan Quran: 1.000 x 50.000 x 365,2422= 18.262.110.000 (t) ( 18 milyar tahun)
Terbukti: Perhitungan umur alam semesta sangat mendekati antara Al Quran (18,26 Milyar) dan sains (18 Milyar) kisaran umur alam semesta adalah = 11,5 s/d 18 milyar tahun menurut Prof.Jean Claude Pecker.
Analogi Terbalik:

Bila kita ingin tahu umur alam semesta ( versi sains),disisi Allah SWT ternyata hanya :
18.000.000.000 : 1.000 : 50.000 : 365,2422 = 0.9856 hari
Jadi hanya = 0,99 hari Allah ( 99 = Asmaul Husna)

Subhanallah! Apakah semua ini suatu kebetulan ?

Bukti pembulatan diatas dapat dibenarkan :
0,99 x 1.000 x 50.000 x 365,2422 = 18.079.488.000 ( masih dalam range ).

Bila bumi berumur = 4,56 Milyar tahun,

Analogi perhitungan : 4.560.000.000 x 4 = 18.240.000.000 tahun, ternyata umur alam semesta merupakan perhitungan kelipatan umur bumi.
Alam semesta sebelum Big Bang = 4 x umur bumi ( 18 ( 0 – 0,262) M )

Alam semesta setelah Big Bang = 3 x Umur bumi ( 13,68 ( 0 – 0,20) M )
Bila analogi perhitungan diatas benar, maka ketika alam semesta ini berumur 18 milyar tahun menurut perhitungan manusia, ternyata tidak sampai 1 hari menurut perhitungan Allah SWT yaitu 0,99 hari,
Subhanallah.
Dari data diatas terdapat perbedaan antara umur alam semesta berdasarkan teori BIG BANG ( 13,7 Milyar) dan teori Prof.Jean Claude Pecker ( 18 Milyar ) yang dari penjelasan teorinya telah dikemukakan bahwa umur yang didapat kemungkinan umur alam semesta sebelum ledakan kosmik Big Bang, padahal sejak 1400 tahun lalu Allah SWT melalui Al Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, telah menjelaskan teori tersebut diatas dengan bahasa yang begitu indah dan bijaksana, seperti ini :
“ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui, bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada jua beriman ?” ( QS 21:30)
Selanjutnya setelah analisis demi analisis diatas menjadi semakin jelas. Akhirnya dapat disimpulkan pengertian makna sains pada surat As-sajdah (QS 32:04) diatas , tentunya dengan cara menggabungkan analisis Al Quran dan data sains yang ada.

Allah SWT menciptakan alam semesta dalam 6 masa atau 6 tahap yang dimaksud adalah sebagai berikut : ( Wallahu’alam bish shawab)

  • Tahap 1 ( 18 Milyar tahun lalu, hanya 0,99 hari disisi Allah SWT) Gumpalan asap à “titik singularitas”, sangat rapat, padat, dan panas (QS 41:11)
  • Tahap 2 ( 15-13,7 milyar tahun lalu, disisi Allah hanya 0,82 – 0,75 hari ) Pemisahan langit dan bumi, ledakan kosmik dahsyat “Big Bang” (QS 21:30)
  • Tahap 3 ( 13,1-8,7 milyar tahun lalu, disisi Allah hanya 0,71 – 0,47 hari ) Pembentukan bintang dan gugusan bintang ( ledakan bintang “Supernova”, pembentukan formasi bintang,proto galaksi, galaksi dan quasar, formasi group cluster galaksi dan super cluster ) QS 15:16, QS 25:61, QS 85:01.
  • Tahap 4 ( 5,0 milyar tahun lalu, disisi Allah SWT hanya 0,27 hari ) Pembentukan “Matahari”( Red Giant) QS 10:05, QS 21:33, QS 91:01, QS 71:16.
  • Tahap 5 ( 4,56-4,0 milyar tahun lalu, disisi Allah SWT hanya 0,249-0,219 hari) Pembentukan “bumi”( masih mati) dan “bulan”. QS 15:19, QS 54:01, QS 57:17, QS 71:19-20, QS 78:06, QS 91:06.
  • Tahap 6 ( 3,5 milyar-140 ribu tahun lalu, disisi Allah SWT hanya 0,191-0,00000766 hari). Bumi menyemai kehidupan hingga manusia hadir (Nabi Adam AS) dirumah bumi sebagai “khalifah”. QS 2:22, QS 13:03, QS 17:37, QS 20:53, QS 50:07-08, QS 79:30-33.
Akhirnya setelah kita bersama memahami tahap-tahap penciptaan alam semesta diatas, maka masih beranikah kita merusak lingkungan hidup yang telah disiapkan Allah SWT hanya untuk menyambut kita.
“Ia-lah yang menjadikan engkau khalifah di atas bumi.” QS. 35: 39

“Engkau adalah umat yang terbaik.” QS. 3: 110
Betapa terharunya kita bahwa Allah SWT telah begitu memanjakan manusia dengan segala persiapan yang telah dibuatNya di alam jagad raya selama 18 milyar tahun ( hitungan manusia), sebelum planet bumi dapat siap dihuni oleh umat manusia sebagai keturunan Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang telah terbukti, berdasarkan Mitochondria DNA—sebagai ibu seluruh umat manusia.
“Patutkah kamu kafir kepada Ku yang telah menciptakan bumi dalam dua masa?
Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?
Tidakkah kamu berfikir? Maka mengapakah mereka tiada jua beriman? Mengapa kamu adakan sekutu-sekutu bagi Nya?

Masihkah kita perlu bukti lagi tentang kebesaran Allah SWT?

Sedangkan telah ada beribu tulisan yang membuktikan kebenaran Al Quran?”


sumber : http://sonysyahlan.multiply.com

Menghitung Kecepatan Cahaya


NAMA Albert Einstein melekat dengan dunia fisika dan menjadi ikon fisika modern. Rumus E = mc^2 dianggap sebagai rumus Einstein yang dalam pandangan awam merupakan “rumus” untuk membuat bom atom. Albert Einstein memang pantas dianggap sebagai tokoh utama yang memimpin revolusi di dunia fisika.

Salah satu teorinya yang mendobrak paradigma fisika berbunyi “kecepatan cahaya merupakan tetapan alam yang besarannya bersifat absolut dan tidak bergantung kepada kecepatan sumber cahaya dan kecepatan pengamat”.

Menurut Einstein, tidak ada yang mutlak di dunia ini (termasuk waktu) kecuali kecepatan cahaya. Selain itu, kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di alam ini. Artinya, tidak mungkin ada (materi) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Pendapat Einstein ini mendapat dukungan dari hasil percobaan yang dilakukan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Michelson-Morley, Fizeu, dan Zeeman.

Di mata awam, postulat Einstein ini memunculkan banyak keanehan. Misalnya, sejak dulu logika kita berpendapat bahwa jika kita bergerak dengan kecepatan v1 di atas kendaraan yang berkecepatan v2, kecepatan total kita terhadap pengamat yang diam adalah v1 + v2. Tetapi, menurut Einstein, cara penghitungan tersebut salah karena dapat mengakibatkan munculnya kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya.

Oleh karena itu, menurut Einstein, formula penjumlahan kecepatan yang benar adalah sebagai berikut= (v1 +v2) / (1 + (v1 x v2 / c2)).

***

Sinodik dan Siderial

Dalam menghitung gerakan benda langit, digunakan dua sistem yaitu Sinodik dan Siderial. Sistem Sinodik didasarkan pada gerakan semu Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi. Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Masehi di mana satu bulan = 29,53509 hari.

Sistem Siderial didasarkan pada gerakan relatif Bulan dan Matahari dilihat dari bintang jauh (pusat semesta). Sistem ini menjadi dasar perhitungan kalender Islam (Hijriah) di mana satu bulan = 27,321661 hari . Ahli-ahli astronomi selalu mendasarkan perhitungan gerak benda langit (mechanical of Celestial) kepada sistem Siderial karena dianggap lebih eksak dibandingkan sistem Sinodik yang mengandalkan penampakan semu dari Bumi.

***

Sinyal dari Alquran

Mengetahui besaran kecepatan cahaya adalah sesuatu yang sangat menarik bagi manusia. Sifat unik cahaya yang menurut Einstein adalah satu-satunya komponen alam yang tidak pernah berubah, membuat sebagian ilmuwan terobsesi untuk menghitung sendiri besaran kecepatan cahaya dari berbagai informasi.

Seorang ilmuwan matematika dan fisika dari Mesir, Dr. Mansour Hassab Elnaby merasa adanya sinyal-sinyal dari Alquran yang membuat ia tertarik untuk menghitung kecepatan cahaya, terutama berdasarkan data-data yang disajikan Alquran. Dalam bukunya yang berjudul A New Astronomical Quranic Method for The Determination of the Speed C , Mansour Hassab Elnaby menguraikan secara jelas dan sistematis tentang cara menghitung kecepatan cahaya berdasarkan redaksi ayat-ayat Alquran. Dalam menghitung kecepatan cahaya ini, Mansour menggunakan sistem yang lazim dipakai oleh ahli astronomi yaitu sistem Siderial.

Ada beberapa ayat Alquran yang menjadi rujukan Dr. Mansour Hassab Elnaby. Pertama, “Dialah (Allah) yang menciptakan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat bagi perjalanan Bulan itu, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan ” (Q.S. Yunus ayat 5).

Kedua, ” Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing beredar dalam garis edarnya” (Q.S. Anbia ayat 33).

Ketiga, “Dia mengatur urusan dari langit ke Bumi, kemudian (urusan) itu kembali kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu” (Q.S. Sajdah ayat 5).

Dari ayat-ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jarak yang dicapai “sang urusan” selama satu hari adalah sama dengan jarak yang ditempuh Bulan selama 1.000 tahun atau 12.000 bulan. Dalam bukunya, Dr. Mansour menyatakan bahwa “sang urusan” inilah yang diduga sebagai sesuatu “yang berkecepatan cahaya”.

**

Hitungan Alquran

Dari ayat di atas dan menggunakan rumus sederhana tentang kecepatan, kita mendapatkan persamaan sebagai berikut:

C x t = 12.000 x L ……………(1)

C = kecepatan “sang urusan” atau kecepatan cahaya

t = kala rotasi Bumi = 24 x 3600 detik = 86164,0906 detik

L = jarak yang ditempuh Bulan dalam satu edar = V x T

Untuk menghitung L, kita perlu menghitung kecepatan Bulan. Jika kecepatan Bulan kita notasikan dengan V, maka kita peroleh persamaan:

V = (2 x phi x R) / T

R = jari-jari lintasan Bulan terhadap Bumi = 324264 km

T = kala Revolusi Bulan = 655,71986 jam, sehingga diperoleh

V = 3682,07 km / jam (sama dengan hasil yang diperoleh NASA)

Meski demikian, Einstein mengusulkan agar faktor gravitasi Matahari dieliminir terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang lebih eksak.

Menurut Einstein, gravitasi matahari membuat Bumi berputar sebesar:

a = Tm / Te x 360°

Tm = Kala edar Bulan = 27,321661 hari

Te = Kala edar Bumi = 365,25636 hari, didapat a= 26,92848°

Besarnya putaran ini harus dieliminasi sehingga didapat kecepatan eksak Bulan adalah

Ve= V cos a.

Jadi, L = ve x T, di mana T kala edar Bulan = 27,321661 hari = 655,71986 jam

Sehingga L = 3682,07 x cos 26,92848° x 655,71986 = 2152612,336257 km

Dari persamaan (1) kita mendapatkan bahwa C x t = 12.000 x L

Jadi, diperoleh C = 12.000 x 2152612,336257 km / 86164,0906 detik

C = 299.792,4998 km /detik

Hasil hitungan yang diperoleh oleh Dr. Mansour Hassab Elnaby ternyata sangat mirip dengan hasil hitungan lembaga lain yang menggunakan peralatan sangat canggih. Berikut hasilnya :

Hasil hitung Dr. Mansour Hassab Elnaby C = 299.792,4998 km/detik

Hasil hitung US National Bureau of Standard C = 299.792,4601 km/ detik

Hasil hitung British National Physical Labs C = 299.792,4598 km/detik

Hasil hitung General Conf on Measures C = 299.792,458 km/detik

**

Wallahu a'lam

Oleh: Wildaiman, Alumni Matematika ITB, Guru Matematika Pontren Al Masudiyah-Cigondewah Kab. Bandung,

Itsar - Mendahulukan orang lain


HUDZAIFAH Al-’Adawi bercerita bahwa suatu hari saat Perang Yarmuk ia mencari saudara sepupunya sambil membawa air. Ia pun menemukan saudaranya itu dan menawarinya minum. Saudaranya mengangguk mengiyakan. Tapi ia mendengar ada orang mengerang kasakitan. Ia menyuruh Hudzaifah memberikan air itu pada laki-laki itu yang ternyata Hisyam ibn Al-’Ash.

Hudzaifah menurut, lalu menawarkan air pada Hisyam. Hisyam mengangguk, namun sebelum sempat air itu diminum ia mendengar seseorang yang mengerang kesakitan. Hisyam menyuruh pergi memberikan air itu padanya. Ketika Hudzaifah sampai pada laki-laki itu, ternyata ia telah mati. Lalu ia kembali menemui Hisyam. Ternyata Hisyam pun telah syahid. Buru-buru Hudzaifah menemui saudaranya lagi, tapi ternyata ia pun telah dipanggil Allah. Mereka meninggal sebelum sempat meneguk air yang dibawa Hudzaifah karena lebih memilih mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri.

Itulah gambaran itsar yang dipraktikkan para sahabat. Sebuah peristiwa yang sangat sulit terjadi saat sekarang. Al-Quran menggambarkan kehidupan penuh îtsar ini sebagai berikut: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijarah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Hasyr: 9).

* * *

DALAM bersaudara, Allah Swt. menuntut kita agar melakukannya karena Allah, bukan karena motif duniawi. Saat seorang Muslim mengakui Muslim yang lain sebagai saudara, maka yang mesti terlintas dalam hatinya bukan “apa untungnya saya bersaudara dengan dia”, melainkan “apa pun untung-ruginya, karena Allah menyuruh untuk saling bersaudara dengan sesama Muslim, maka saya akui dia sebagai saudara”. Inilah sikap seorang yang mau mengamalkan bunyi hadits Nabi, “Barangsiapa mempersaudarakan dua orang karena Allah, maka Allah akan mengangkatnya pada satu derajat di surga yang tidak didapatnya dengan amal yang lain” (HR Ibn Abi Dunya dari Anas ibn Malik).

Dalam memperlakukan saudaranya, menurut Al-Ghazali, seseorang dapat tergolong dalam tiga kategori berikut. Pertama, memperlakukannya seperti hamba sahaya: ia memberikan sesuatu hanya dari sisa-sisa yang sudah tidak dibutuhkannya, diminta ataupun tidak. Kategori ini adalah kategori terendah dalam bersaudara. Kedua, memperlakukannya sama seperti ia memperlakukan diri sendiri: apa yang dibutuhkan oleh dirinya, itulah yang ia berikan pada saudaranya.

Perlakukan ini lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang pertama. Ketiga, lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri (al-îtsar): sebelum ia menikmati apa saja yang dimilikinya, ia akan lebih dahulu memberikan pada saudaranya. Inilah derajat persaudaraan tertinggi yang bila dijalankan akan menjadikan kita sejajar dengan para shiddîqîn yang dijanjikan surga oleh Allah. (Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn, jil.II hal. 171).

* * *

MEMANG, bukan hal yang mudah untuk merenda îtsar dalam dada. Butuh latihan dan kesabaran. Sebelum sampai ke sana banyak tangga yang mesti dilalui. Ada tiga cara yang dapat kita biasakan agar sikap îtsar dapat lebih mudah kita lakukan. Pertama, al-ta’âruf (saling mengenal). Ibarat pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Demikian pula dalam bersaudara. Saling mengenal adalah kunci pertama untuk membuka pintu persaudaraan. Adalah mustahil, seseorang bersaudara tapi satu sama tidak saling mengenal. Untuk memulai saling mengenal, kita harus mau terbuka menerima orang lain apa adanya. Kebencian dan kedengkian harus dihilangkan. Perbedaan tak perlu menjadi alasan untuk tidak saling mengenal, apalagi antar sesama Muslim yang telah dinobatkan oleh Allah sebagai saudara dalam iman (lihat QS. Al-Hujurat: 10).

Setelah saling mengenal, amal kedua yang dapat kita biasakan adalah saling membantu (al-ta’âwun) Rasulullah bersabda, “Seorang Mukmin dengan Mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain” (HR. Bukhari). Semakin sering kita saling membantu, sikap individualistis akan terkikis. Ikatan persaudaraan antar sesama pun semakin terpatri erat.

Namun demikian, Allah berpesan agar tidak saling membantu dalam perbuatan dosa. Firman-Nya, “Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa. Dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesunggzlhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. Al- Maidah: 2). Saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan, pada satu sisi memang akan menguatkan solidaritas dalam kelompok. Tetapi di sisi lain, akan mewujudkan ketidakharmonisan masyarakat dan berpotensi memperkuat permusuhan antar kelompok. Islam menginginkan persaudaraan terwujud dalam masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya dalam kelompok tertentu.

Amal ketiga adalah berempati atas penderitaan orang lain dan segera ingin membantu melepaskannya. Bukan hal yang mudah untuk dapat berempati dan ikut merasakan penderitaan orang lain. Namun, sikap ini dapat dilatih dengan cara membiasakan diri bersegera membantu saat orang lain mendapat musibah atau kesusahan. Pertama kali memang sulit, musibah yang menimpa orang lain tidak kita rasakan sendiri. Bila tak ditolong pun rasanya tidak akan berpengaruh apa- apa buat kita. Perasaan semacam ini harus dikikis habis. Bila dibiarkan, sangat potensial menyuburkan sikap individualistis. Rasulullah Saw pun menginginkan agar seorang Muslim dengan Muslim lainnya seperti satu tubuh yang saling merasakan.

Bila ketiga hal di atas telah terbiasa kita lakukan, Insya Allah sikap îtsar akan lebih mudah kita praktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan bila ini benar-benar telah terwujud, tak harus ada pengemis di pinggir jalan dan tak perlu ada orang mati kelaparan. Wallâhu A’lam.

dari http://www.sobatmuslim.com

Mengatasi Asam Urat dengan Resep Herbal dari beberapa Tanaman Obat

Beberapa tanaman liar dikenal berkhasiat untuk mengobati asam urat, antara lain Sambiloto, Sidaguri, Salam, Kumis kucing, Meniran, dan Anting-anting. Umumnya sifat-sifat farmakologis tanaman ini adalah diuretik (peluruh kencing) dan antiradang, karena dalam pengobatan modern pun, sifat-sifat obat sintetik yang dimanfaatkan untuk mengobati asam urat adalah antiradang (untuk mengurangi pembengkakan akibat penumpukan kristal asam urat) dan juga diuretik (untuk membantu pembuangan kelebihan asam urat dalam darah agar tidak terus menumpuk di dalam tubuh). Namun yang wajib Anda ingat, jika Anda sedang menjalani pengobatan modern, Anda tidak dianjurkan untuk menggunakan obat tradisional dalam waktu yang bersamaan, karena bisa jadi dosisnya menjadi berlipat ganda sehingga justru malah membahayakan. Konsultasikan terlebih dahulu pada dokter jika Anda ingin menggunakan obat tradisional.

Sambiloto ( Adrographis panniculata )
Aslinya merupakan tanaman dari India . Di beberapa daerah sambiloto dikenal juga dengan nama papaitan, ki peurat, bidara, kayu mas, lang, ki pait, sampiroto, atau ki oray. Sambiloto mengandung beberapa senyawa flavanoid, alkane, keton, aldehid dan juga beberapa mineral seperti kalsium, kalium dan natrium. Rasanya pahit, namun tanaman ini dikenal sebagai antiradang, penghilang nyeri atau analgetik, dan juga penawar racun.
Bagian tanaman yang digunakan adalah seluruh tanaman.

Sidaguri ( Sida rhombifolia )
Dikenal dengan nama daerah guri, siliguri, kahindu, sadagori, otok-otok atau bitumu. Kandungan kimia yang sudah diketahui adalah alkaloid, kalsium oksalat, tannin, saponin, fenol, asam amino, minyak atsiri, zat phlegmatic untuk ekspektoran, dan lubrikan. Akarnya mengandung alkaloid, steroid dan aphredine. Sidaguri memiliki rasa manis, sedikit panas dan sejuk. Dalam pengobatan, sidaguri digunakan sebagai antiradang, peluruh kencing dan penghilang rasa sakit.
Bagian tanaman yang digunakan adalah akarnya.

Daun salam ( Eugenia polyanta )
dikenal masyarakat Indonesia sebagai bumbu masak karena memiliki keharuman yang khas yang bisa menambah kelezatan masakan nusantara. Daun salam rasanya kelat dan bersifat astringent. Senyawa-senyawa seperti minyak atsiri, tannin dan flavonoid banyak terdapat dalam daunnya. Untuk pengobatan memang daunnya lah yang paling banyak digunakan, tetapi akar, kulit dan buahnya pun berkhasiat sebagai obat.

Kumis kucing ( Orthosiphon aristatus )
Juga telah lama dikenal sebagai diuretik yang berkhasiat sebagai penghancur batu saluran kencing. Rasanya manis sedikit pahit, dulunya banyak tumbuh di selokan dan anak sungai, namun sekarang tak sedikit orang yang gemar menanamnya di pekarangan rumah. Garam kalium dalam tanaman ini memang berkhasiat melarutkan batu ginjal, karenanya banyak digunakan sebagai obat penghancur batu. Kandungan sinsetin-nya bersifat sebagai antibakteri, dan tanaman ini juga mengandung senyawa orthosiphonin glikosida. Sifat diuretik tanaman ini berguna untuk membantu tubuh membuang kelebihan asam urat lewat urin.

Meniran ( Phyllanthus niruri )
Saat ini terkenal sebagai tanaman obat yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Meniran juga dikenal dapat membersihkan hati, sebagai antiradang, pereda demam, peluruh kencing, peluruh dahak, peluruh haid, menjernihkan penglihatan, serta menambah nafsu makan. Seperti halnya kumis kucing, sifat diuretiknya-lah yang digunakan untuk mengobati asam urat.

Karena akarnya – entah kenapa – disenangi kucing, maka tanaman anting-anting ( Acalypha indica ) sering juga disebut kucing-kucingan atau akar kucing. Orang Sunda mengenalnya sebagai rumput kokosan. Rasanya pahit, sejuk dan bersifat astringen. Herba ini berkhasiat sebagai antiradang, antibiotik, peluruh kencing, pencahar dan penghenti perdarahan. Umumnya orang menggunakan bagian akarnya untuk menangani penyakit asam urat.

Beberapa ramuan yang bisa digunakan untuk membantu mengatasi gangguan asam urat adalah :

Cuci bersih dan rebus sambiloto kering 10 gram, rimpang temulawak kering 10 gram, komfrey 5 - 10 gram, dan buah lada 1 gram dengan 5 gelas air hingga tersisa 3 gelas, diminum 3 kali satu gelas setiap hari, 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan.

Cuci bersih 10 gram daun kumis kucing kering atau 20 gram basah, 10 gram meniran kering atau 20 gram basah, 10 gram sawi tanah kering atau 20 gram basah, 15 gram jahe merah kering atau 30 gram basah, dan 10 gram kapulaga kering. Memarkan jahe merah dan gabung dengan bahan yang lain, rebus dalam satu liter air hingga tersisa setengahnya. Minum pagi, siang dan sore hari, masing-masing ¾ gelas (150 ml) atau minum dua kali sehari masing-masing 200 ml.

Rebus 15 - 30 gram herba kering atau 30 – 60 gram herba basah sidaguri dengan 3 gelas air sampai tersisa setengahnya, minum 3 kali sehari masing-masing ½ gelas. Jika menggunakan akar, dosisnya 10 – 15 gram.

Rebus 10 – 15 lembar daun salam segar ataupun kering dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas, minum 2 kali sehari masing-masing ½ gelas.

Ambil 5 -7 potong akar anting-anting (segar ataupun kering), rebus dengan 2 gelas air hingga tersisa satu gelas, setelah dingin minum sekaligus. Lakukan 2 -3 kali sehari.

Untuk borehan, gunakan daun gandarusa segar 40 gram, daun kemangi segar 30 gram, kencur segar 30 gram, jahe merah segar 30 gram, daun encok segar 30 gram, dan beras 40 gram. Rendam beras selama 3 – 4 jam. Cuci semua bahan, tumbuk/lumatkan, lalu campur dengan beras yang telah ditumbuk. Setelah bahan tercampur dan lembut, tempatkan dalam wadah dan borehkan ramuan pada bagian yang sakit secukupnya. Lakukan pengobatan dua kali sehari, pagi dan sore.

Obat Alami: Kacang Hijau (Phaseolus Aureus)

Anda pasti kenal kacang hijau. Sebagai makanan, tanaman yang diperkirakan berasal dari India ini menghasilkan berbagai masakan. Mulai dari aneka panganan kecil, bubur sampai kolak. Namun selain rasanya yang gurih dan lezat, kacang hijau dan kecambahnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.

Nutrisi Penting.
Kacang hijau atau Phaseolus Aureus berasal dari Famili Leguminoseae alias polong-polongan. Kandungan proteinnya cukup tinggi dan merupakan sumber mineral penting, antara lain; kalsium dan fosfor yang sangat diperlukan tubuh. Sedangkan kandungan lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh, sehingga aman dikonsumsi oleh orang yang memiliki masalah kelebihan berat badan.

Protein Tinggi. Kacang hijau mengandung protein tinggi, sebanyak 24%. Dalam menu masyarakat sehari-hari, kacang-kacangan adalah alternatif sumber protein nabati terbaik. Secara tradisi, ibu-ibu hamil sering dianjurkan mengkonsumsi kacang hijau agar bayi yang dilahirkan mempunyai rambut lebat. Pertumbuhan sel-sel tubuh termasuk sel rambut memerlukan gizi yang baik terutama protein, dan karena kacang hijau kaya akan protein maka keinginan untuk mempunyai bayi berambut tebal akan terwujud. Kalsium dan Fosfor. Kandungan kalsium dan fosfor pada kacang hijau bermanfaat untuk memperkuat tulang.

Lemak Rendah
. Sangat baik bagi orang yang ingin menghindari konsumsi lemak tinggi. Kadar lemak yang rendah dalam kacang hijau menyebabkan bahan makanan atau minuman yang terbuat dari kacang hijau tidak mudah tengik. Lemak kacang hijau tersusun atas 73% asam lemak tak jenuh dan 27% asam lemak jenuh. Umumnya kacang-kacangan memang mengandung lemak tak jenuh tinggi. Asupan lemak tak jenuh tinggi penting untuk menjaga kesehatan jantung.

Vitamin B1 (tiamin).
Untuk pertumbuhan. Pada awalnya vitamin B1 dikenal sebagai anti beri-beri. Selanjutnya dibuktikan bahwa vitamin B1 juga bermanfaat untuk membantu proses pertumbuhan. Defisiensi vitamin B1 dapat mengganggu proses pencernaan makanan dan selanjutnya dapat berdampak buruk bagi pertumbuhan. Dengan meningkatkan asupan bahan makanan yang banyak mengandung vitamin B1, seperti kacang hijau, hambatan pertumbuhanpun dapat diperbaiki.

Meningkatkan Nafsu Makan Dan Memperbaiki Saluran Pencernaan.
Secara tak langsung peran ini sangat berkaitan dengan efek perbaikan pertumbuhan badan. Penelitian mengungkapkan bahwa defisiensi vitamin B1 menyebabkan waktu pengosongan lambung dan usus dua kali lebih lambat yang mengindikasikan sulitnya proses pencernaan makanan yang terjadi sehingga kemungkinan makanan tersebut tidak dapat diserap dengan baik.

Sumber Energi.
Vitamin B1 adalah bagian dari koenzim yang berperan penting dalam oksidasi karbohidrat untuk diubah menjadi energi. Tanpa kehadiran vitamin B1 tubuh akan mengalami kesulitan dalam memecah karbohidrat.

Memaksimalkan Kerja Syaraf.
Tanda-tanda pertama orang yang kekurangan vitamin B1 adalah penurunan kerja syaraf. Kegiatan syaraf terganggu karena oksidasi karbohidrat terhambat. Penelitian pada sekelompok orang yang makanannya kurang cukup mengandung vitamin B1 dalam waktu singkat muncul gejala-gejala mudah tersinggung, tidak mampu memusatkan pikiran dan kurang bersemangat. Hal ini mirip dengan tanda-tanda orang stress.

Vitamin B2 (riboflavin) Membantu Penyerapan Protein Di Dalam Tubuh. Salah satu teori menyebutkan bahwa vitamin B2 dapat membantu penyerapan protein di dalam tubuh. Kehadiran vitamin B2 akan meningkatkan pemanfaatan protein sehingga penyerapannya menjadi lebih efisien.


Tidak kalah dengan kacangnya, kecambahnya juga memiliki manfaat seperti:

Antioksidan yang terkandung di dalamnya dapat membantu memperlambat proses penuaan dan mencegah penyebaran sel kanker. Kandungan vitamin E-nya membantu meningkatkan kesuburan. Sangat baik untuk menjaga keasaman lambung dan memperlancar pencernaan karena bersifat alkalis (basa). Untuk kecantikan, yaitu membantu meremajakan dan menghaluskan kulit, menghilangkan noda-noda hitam pada wajah, menyembuhkan jerawat, menyuburkan rambut dan melangsingkan tubuh.

Khasiat kunyit


Kunyit sudah sangat lama di gunakan nenek moyang kita bagi kesehatan, dan tanaman ini memiliki banyak manfaat pengobatan. Masakan Indonesia sangat mengenal kunyit sebagai salah satu bahan dasar wajib untuk masakan yang berwarna kuning atau sebagai pewarna alami makanan. Contohnya; kari ayam, gulai, soto, hingga ayam goreng bumbu kuning, nasi kuning, menggunakan kunyit sebagai salah satu bumbunya. Selain untuk bumbu dapur, kunyit juga digunakan untuk ramuan obat tradisional baik menjaga kesehatan tubuh maupun kecantikan. Yang biasa kita konsumsi mungkin adalah kunir asam yang biasa dijual oleh mbak jamu gendong langganan kita. Dengan mengonsumsi kunyit asam - satu minuman dengan kategori jamu - secara teratur, kulit cantik dengan warna kuning langsat pun akan diperoleh. Kunyit yang bagus untuk obat adalah yang umur rimpangnya sudah lebih dari satu tahun. Beberapa khasiat obat dari kunyit antara lain:
  1. Demam : 20 gram rimpang segar dicuci lalu diparut.Tambahkan 1/2 gelas air matang dan diaduk merata,peras dengan sepotong kain bersih.Air perasan diminum.Lakukan 2 kali sehari
  2. Diare : Bahan : rimpang kunyit, gambir dan kapur sirih secukupnya. Caranya: ambil kunyit segar sebesar 1/2 jari tangan,diiris tipis-tipis lalu direbus dengan 1 gelas air bersih sampai tersisa 1/3 gelas. Tambahkan 1 sendok teh air kapur sirih,aduk sampai merata. Saring dan minum 3 kali sehari sampai sembuh.
  3. Perut kembung,tidak nafsu makan,nyeri,mual 50 g kunyit segar bersihkan lalu diparut.Tambahkan 3 sendok air minum,lalu aduk merata lalu diperas dan disaring,dibagi untuk 3 kali minum.
  4. Mencegah kerutan pada kulit. Parut sedikit kunyit dan peras airnya. Untuk hasil maksimal, sebaiknya setiap hari diminum.
  5. Diabetes Mellitus. Bahan : 3 rampang kunyit, 1/2 sendok teh garam. Cara membuat : kedua bahan tersebut direbus dengan 1 liter air hingga mendidih, kemudian disaring. Cara menggunakan : diminum 2 kali seminggu 1/2 gelas.
  6. Tifus. Bahan : 2 rimpang kunyit, 1 bonggol sere, 1 lembar daun sambiloto. Cara membuat: semua bahan tersebut ditumbuk halus dan dipipis, kemudian ditambah 1 gelas ai masak yang masih hangat dan disaring. Cara menggunakan : diminum, dan dilakukan selama 1 minggu berturut - turut.

Suatu hari nabi Isa AS


Belajar model sekarang, Dengarkan diradio, browsing sana-sini, check, baca, telaah, share....


Nikmat Beranak Derita
Sumber: Ustadz Ibnu Muhammad Salim*

Suatu hari Nabi Isa a.s. berjalan diiringi seorang pria. Begitu sampai di tepi sebuah sungai, mereka duduk untuk sarapan pagi dengan tiga potong roti. Satu potong dimakan oleh Nabi Isa sendiri, satu potong lagi disantap oleh sahabatnya itu, dan satu potong lagi akan mereka bawa sebagai bekal nanti jika saja tidak menemukan makanan lagi dalam perjalanan. Nabi Isa bangkit dan berjalan ke sungai untuk minum. Setelah minum, beliau kembali ke tempat semula. Setelah menengok ke kiri-kanan, ternyata sepotong roti sisanya itu sudah raib. Beliau bertanya kepada sahabatnya itu, “Siapa yang mengambil roti kita?” Jawabnya, “Aku tidak tahu, hai Nabi!”

Tanpa pikir panjang, keduanya meneruskan perjalanan. Tepat saat tengah hari, tiba-tiba seekor kijang diiringi dua anaknya melintas di hadapan mereka. Nabi Isa pun memanggil seekor dari anak kijang itu. Anak kijang itu mendekat dan langsung ditangkap, disembelih, lalu dipanggang. Mereka pun menyantapnya. Sisanya dikumpulkan Nabi Isa dan beliau perintahkan, “Hai anak kijang bangkitlah berdiri dengan izin Allah!” Anak kijang itu pun menjelma, lalu berlari entah ke mana. Nabi Isa a.s. kembali bertanya kepada sahabatnya, “Demi Allah yang memperlihatkan pertandaan ini kepadamu, siapa yang mengambil sepotong roti tadi?” Sahabat itu masih tetap menjawab, “Aku tidak tahu, wahai Nabi!”

Mereka pun meneruskan perjalanan sampai ke sebuah lembah yang digenangi air. Nabi Isa memegang tangan si pria, dan mereka berdua berjalan di atas permukaan air. Setelah tiba di seberang, Nabi Isa kembali berkata, “Demi Dia yang memperlihatkan pertandaan ini kepadamu, siapa yang mengambil roti kita tadi?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Akhirnya, mereka sampai di gurun luas dan beristirahat di sana. Nabi Isa a.s. tiba-tiba menumpukkan seonggok tanah-pasir, lantas berkata, “Jadilah kau seonggok emas butiran dengan izin Allah!” Onggokan pasir itu pun berubah jadi emas. Nabi Isa membagi tiga onggokan emas itu, sembari berujar, “Sepertiga untukku, sepertiga untukmu—sambil melihat kepada temannya itu—dan sepertiga lagi untuk orang yang mengambil roti tadi.” Karena sangat berharap mendapatkan satu onggokan emas sisanya itu, akhirnya si pria mengakui bahwa dialah yang memakan roti yang satu potong tadi. “Ambillah untukmu emas ini semuanya,” ujar Nabi Isa sembari meninggalkan pria itu sendirian beserta tiga onggokan emasnya.

Tak lama berselang, lewatlah dua orang perampok berbadan kekar dan tegap di padang lengang itu. Melihat tumpukan emas kuning kemilau, kedua rampok itu langsung beraksi dan hendak membunuh pemiliknya itu. Akan tetapi, si pria pemilik emas itu segera memelas, “Jangan bunuh aku, kita bisa bagi tiga harta karun ini!” Dua rampok itu menyetujui permohonan si pria. Karena dililit rasa lapar, salah satu dari rampok itu diutus untuk membeli makanan di warung terdekat. Di tengah jalan ia berpikir untuk mengenyahkan kedua pria yang menjaga emas itu: kenapa aku harus berbagi dengan mereka; bukankah aku akan kaya raya dengan seluruh emas itu. Maka, lebih baik makanan yang kubeli nanti kumasuki racun lebih dahulu agar kedua bajingan itu mati, dan tumpukan emas itu bakal menjadi milikku semuanya.

Begitu rekan yang diutus membeli makanan berangkat, dua yang menjaga emas itu pun bermufakat: emas ini lebih baik kita bagi dua saja. Begitu teman yang membeli makanan pulang, kita bunuh saja dia. Akhirnya, ketika si pembeli makanan kembali, ia mati dibunuh oleh temannya sendiri, sementara teman yang menanti melahap makanan beracun sekenyang-kenyangnya, dan akhirnya pun mati.

Onggokan emas masih utuh di tempatnya. Kebetulan, setelah tragedi itu terjadi, Nabi Isa bersama beberapa sahabatnya melintasi tempat itu dan menyaksikan tiga mayat terkapar di dekat onggokan emas. Nabi Isa a.s. berujar kepada para sahabatnya, “Waspadah kalian terhadap tragedi cinta dunia seperti ini!”
****

Kisah ini tersebar di berbagai kitab klasik(1). Saya amat senang dapat menceritakan kembali kepada pembaca. Sebab, cerita ini sejatinya mencerminkan “wajah” keseharian kita sendiri. Anda bisa jadi sudah mempunyai rumah sendiri. Gaji Anda cukup untuk makan dan sedikit hiburan. Tapi, karena tuntutan gaya hidup modern atau karena bujukan iklan, Anda ingin memiliki kendaraan bermotor, lalu butuh garasi, lalu... Dan seterusnya dan seterusnya. Jelas, itu manusiawi, bahkan bisa menjadi pemacu untuk maju. Tetapi, naasnya, kita acap tergesa-gesa. Ingin cepat sukses tanpa proses. Keinginan timbul langsung terkabul. Dengan kata lain, kita cenderung berorientasi jangka pendek.

Itulah awal mula dosa. Sebutlah dusta, mencuri, korupsi, zina, dan sederet perbuatan lain yang dikategorikan dosa, semua dilakukan karena orang ingin cepat-cepat nikmat, segera kaya, tanpa berpikir kelak bakal selamat. Itulah pula kenapa kita—sebagai pebisnis, politisi, preman, atau orang biasa—mudah menyikut orang lain. Pagi kawan, eh…sore sudah jadi lawan.

Nikmat Beranak Derita
Dengan demikian, dosa sejatinya adalah suatu perbuatan yang dalam jangka pendek menyenangkan, tapi dalam jangka panjang menyengsarakan. Saat Anda berbohong di hadapan teman Anda, saat itu Anda selamat. Tapi bersiaplah untuk tidak dipercaya di kemudian hari. Seberapa lamakah orang berzina mereguk kenikmatannya dibandingkan penderitaannya di kemudian hari?

Setahun dua tahun Anda mungkin dapat menikmati hasil korupsi. Tapi bersiaplah untuk diburu KPK dan dituntut di pengadilan. Tak jarang para koruptor menghabiskan kekayaan hasil korupsinya itu hanya untuk menghilangkan jejak. Energi, bahkan sisa usianya, terkuras habis untuk menutupi malu dan agar terbebaskan dari jerat hukum. Bahkan, bila ternyata Anda lolos dari terdakwa, Anda tak bisa mengindar dari nurani Anda sendiri. Jauh di lubuk batin ini, ada suara hati yang begitu jujur akan berkata, “Kamu korupsi! Kamu telah nyolong hak orang lain! Kamu menyuapi anak istrimu dengan uang haram! Dan seterusnya.” Atau, bila ternyata hati sudah begitu berkarat, nurani tak lagi berjerit, lalu siapa yang bisa mengelak siksa kelak di akhirat?

Setiap kali manusia menentang nuraninya—Freud menyebut superego-nya—setiap kali ia melakukan pelanggaran nilai-nilai moral (dalam bahasa agama, berbuat dosa atau maksiat), ia akan mengalami kegelisahan. Kaum psikoanalisis menyebutnya moral anxiety. Konflik dengan nurani akan menorehkan luka psikologis. Mungkin luka psikologis ini dibenamkan dalam bawah sadar kita, tetapi ia tidak akan hilang. Ia akan menghantui seluruh hidup kita. Perasaan berdosa (guilt feeling) menimbulkan gangguan fisik dan psikologis.

Diri kita pun rusak. Para psikolog menyebutnya anxiety disorder. Secara fisik, kita bisa dilanda kesulitan konsentrasi, sulit tidur, mudah lelah, keluar keringat dingin, dan tak jarang sesak napas dan pening. Pendeknya, kita mempercepat kehancuran diri kita. Maka, tak salah bila dosa acap disebut nikmat beranak derita.

Pembaca, itulah makna cinta dunia. Memikirkan yang sementara, melupakan yang abadi. Berorientasi jangka pendek. Kita pun jadi mengerti kenapa Nabi saw. bersabda bahwa “cinta dunia adalah pangkal segala dosa”. (2) Kata “dunia (dunyâ)” artinya adalah rendah, sementara, inferior, eksistensi temporal, berjangka pendek. Jadi, cinta dunia berarti cinta yang sementara, yang rendah, yang jangka pendek.

Dalam ungkapan Quran, “Kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat hanyalah kesenangan sedikit (QS Ar-Ra‘d: 26).” Nabi saw. mengibaratkan kehidupan dunia bagai setetes air laut yang menempel pada jari, sementara kehidupan akhirat bagaikan lautan itu sendiri. Quran juga melukiskan pesona dunia laksana “… hujan dan tanam-tanaman yang disiraminya, mengagumkann para petani, tetapi kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, setelah itu lalu hancur” (QS al-Hadîd: 20).

Ingatkah apa yang kita inginkan ketika kita berumur 6, 12, 21, dan 26 tahun? Mungkin sepeda, kuda, teman, mobil atau pekerjaan, ataukah ingin agar keluarga kita berubah sikap? Setelah kita memperoleh segala yang kita inginkan, berapa lamakah kepuasan dan kebahagiaan kita bertahan sebelum kita menginginkan hal yang lain? Sudahkah keinginan itu berakhir? Atau akankah keinginan itu berakhir? Dunia bersifat sementara, tapi selalu membuat kita menginginkan sesuatu yang lebih.

Menurut ulama, dunyâ adalah segala sesuatu yang paling dekat dengan nafs, yang kerap diterjemahkan sebagai jiwa-rendah (lower self). Dibilang jiwa rendah, karena nafs sebenarnya hanya berhasrat pada kesenangan-kesenangan rendah (fisikal dan material atau duniawi). Hasratnya nirbatas. Tak terpuaskan dengan diperturutkan. Nabi saw. bersabda, “Seandainya turunan Adam memiliki dua lembah dari emas, niscaya dia menginginkan yang ketiga, kerongkongan turunan Adam tidak pernah penuh, sehingga [dipenuhi] dengan tanah” (H.R. Bukhârî dan Muslim).

Jadi, cinta dunia bersumber dari nafs ini. Pencinta dunia—manusia berorientasi rendah—adalah mereka yang memperturutkan jiwa-rendah-nya. Itulah sumber tragedi. Potret ekstrem mereka bagaikan tiga orang yang terkapar tewas dalam kisah di atas. Di sini perlu dicamkan pesan Nabi Isa a.s., “Waspadalah kalian terhadap tragedi cinta dunia seperti ini!

Kendati begitu, kita jangan sampai tertipu. Suatu ketika seorang pria datang menemui Imam ‘Ali k.w. Ia mulai mencela dunia. Ia berteriak, dunia telah memperdaya, merusak, menipu, dan menganiaya manusia. Dunyâ matâ‘ al-ghurûr. Pria itu konon pernah mendengar orang-orang besar mencela dunia, lalu mengira, realitas alam inilah yang mereka cela.

Imam ‘Ali lantas berkata, “Sesungguhnya engkaulah yang tertipu oleh dunia ini, padahal dunia tidak menipumu. Engkaulah yang menganiaya dunia, bukan dunia yang menganiayamu.” “Dunia, lanjut sang imam, adalah sahabat bagi yang berjalan bersamanya dengan cara yang bersahabat; ia adalah kesembuhan bagi yang mengetahui hakikatnya. Dunia adalah tempat beribadah para pencinta Allah, tempat salat para malaikat Allah, tempat turunnya wahyu Allah, dan tempat berniaga para wali Allah.” (3)

Jadi, dunia menjadi sumber petaka bila kita tertambat padanya, sehingga orientasi hidup kita jadi rendah dan sempit (4). Quran menyebutnya sebagai orang yang mempunyai ma‘îsyatan dhanka, kehidupan yang sulit dan sempit (QS Thâhâ: 124). Bagaimana tidak sempit, bila orientasi hidupnya rendah dan sesaat; bila kesenangan-kesenangannya bersifat sementara.

Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya pada sahabatnya. “Siapa orang yang cerdas itu?” Para sahabat menunggu penjelasan berikutnya. Beliau melanjutkan, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dan berbuat untuk masa depannya setelah mati.”

Ya, orang beriman bukan menghindari kenikmatan duniawi, melainkan tidak meletakkan nilai yang tinggi kepadanya. Syekh Akbar Ibnu Arabi berpesan, “Dunia ini tidaklah buruk—sebaliknya, ia merupakan ladang akhirat. Apa yang kamu tanam di sini akan kamu panen di sana. Dunia ini adalah jalan menuju berkah yang abadi dan karena itu ia baik—layak didamba dan dipuji. Yang buruk adalah memperlakukan dunia sehingga kamu menjadi buta pada kebenaran dan dikuasai sepenuhnya oleh hasrat, keinginan, dan ambisimu kepadanya.
“Sungguh, kehidupan di dunia hanyalah permainan dan kegembiraan sia-sia. Tapi jika kamu beriman dan menjaga diri dari kejahatan, kamu akan diberi-Nya pahala (QS Muhammad: 47).” []

* Ibnu Muhammad Salim adalah penulis buku laris Amalan Sesudah Shalat.

Catatan Kaki
-----------------------------
(1) Setidaknya dikisahkan oleh Abû Bakr bin Abi al-Dunyâ, Kitâb Dhamm al-Dunyâ, dalam Mawsû‘ah Rasâ’il, 2: 49, kutipan no. 87; lihat pula al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn, 3: 267; Abû Thâlib al-Makkî, Qut al-Qulûb, 1: 255; al-Turtushi, Sirâj, h. 79-80; Ibn Asakir, Sîrah, h. 95, no. 82; al-Abshihi, al-Mustatraf, 2: 26–264.

(حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ، وَالنَّظَرُ يَزْرَعُ فِي الْقَلْبِ شَهْوَةً، وَرُبَّ شَهْوَةٍ أَوْرَثَتْ أَهْلَهَا حُزْنًا طَوِيْلاً (2

(3)Lihat al-Syarîf al-Radhî (ed), Nahj al-Balâghah Syarh Syaikh Muhammad ‘Abduh, Dâr al-Fikr, Beirut, t.th., juz 4, hh. 31–2.

(4)Dunia di atas segala-galanya sehingga lupa kepada Allah dan hari akhir (QS al-Najm 14–15), dunia dijadikan sebagai tujuan akhir (QS al-Jâtsiyah: 24), kesenangan dunia adalah puncak kehidupan (QS al-Tawbah: 38).

Wallahu a'lam